Mengapa Tas Rajut Pesanan Anda Belum Sampai? Ini Dia Alasannya

paket belum sampai

Hari ini saya mau cerita tentang beberapa pengalaman berjualan online, pada saat mengirim barang pesanan pelanggan saya, kebetulan saya berjualan tas rajut secara online.

Kalo ada yang belum tahu, ini web, fanpage dan akun instagram jualan tas rajut saya. Sebagai informasi, saya sudah berjualan tas rajut semenjak tahun 2013.

Baik, ini pengalaman atau mungkin lebih pas kalau studi kasus tentang proses pengiriman barang dari toko online saya hingga sampai ke pelanggan.Sering banget saya ditanya begini…

“Kok tas rajut saya belum sampai ya?”

“Sudah 2 minggu ini tas rajut yang saya beli belum sampai?”

“Padahal sama-sama di Jogja, kok lama sih? Biasanya juga cuman 2 hari dah sampai”

Bayangin deh kalo seandainya Anda di posisi saya, saya jamin Anda gak bakalan tenang satu hari atau semenjak Anda menerima pertanyaan di Whatsapp atau pesan Blackberry.

Kenapa dan ada faktor apa sih sebenarnya?

Pada dasarnya, pihak ekspedisi atau penyedia jasa kirim barang sudah memiliki SOP sendiri untuk mengatur pengiriman agar lancar dan sampai ke tangan pelanggan, namun terkadang ada faktor-faktor yang menyebabkan pengiriman jadi terhambat.

1. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PENGIRIMAN BARANG TERHAMBAT

Faktor Eksternal

Pada pertengahan bulan Desember 2015 kemarin saya mendapat banyak pesanan dari beberapa pelanggan saya, kebetulan mereka ini adalah pelanggan yang biasanya membeli tas rajut secara grosir.

Lokasi mereka berbeda-beda, ada yang di Medan, Batam, Kalimantan, NTB dan Sulawesi.

Situasi dan kondisi toko saat itu tiba-tiba menjadi Siaga 2, karena salah satu pelanggan yang berada di Makassar, Sulawesi menanyakan barang-barang pesanannya yang belum sampai.

sumber: wikimedia.org
sumber: wikimedia.org

Menurut pelanggan saya ini, biasanya pengiriman dengan jasa ekspedisi perusahaan A ke Makassar tempat dia tinggal tidak lebih dari 1 minggu, paling cepat 4 hari kerja sudah sampai.

Perhitungan saya, pada waktu itu barang sedang dalam perjalanan ke Makassar atau bahkan sudah sampai tapi kenyataan berkata lain.

Biasanya langkah awal yang akan saya lakukan ketika mendapat laporan berupa keluhan seperti ini adalah dengan mengecek atau biasanya disebut tracking dengan menggunakan nomor resi pengiriman.

paket tas rajut belum sampai

Apa yang saya lihat di layar monitor waktu itu cukup membuat saya terkejut, barang masih berada di Jogja.

Hari Senin saya cek langsung ke kantor pusat ekspedisi terkait di Jogja guna meminta penjelasan dari mereka mengenai keterlambatan yang meresahkan pelanggan reseller saya ini.

Usut punya usut, ternyata barang sudah berada di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng dan masih berada di gudang.

Mereka menjelaskan, bahwa untuk pengiriman barang pada saat peak season memang sering terjadi keterlambatan pengiriman seperti ini.

Dan untuk kasus saya ini, barang masih dalam status pending di gudang, karena masih harus menunggu giliran penerbangan dari bandara menuju kota tujuan.

Fakator Internal

Mungkin ini adalah pengalaman yang cukup menggelikan sekaligus menjengkelkan.

Jadi ceritanya begini.

Pernah ada reseller , kebetulan dia satu kota dengan saya, namun karena dia tinggal cukup jauh dengan tempat saya tinggal maka saya menyarankan untuk menggunakan jasa pengiriman dalam kota.

Perusahaan B ini memberi estimasi paling lama 2 hari untuk tarif reguler.

Kenyataannya, sudah 4 hari barang belum sampai.

Saya coba memasukkan nomor resi melalui fitur tracking yang ada pada website mereka, di sana tertulis “On Process”

Tidak puas dengan apa yang saya lihat di layar monitor, saya pergi ke kantor pusat perusahaan B ini, mencoba meminta penjelasan dari mereka.

Tahukah Anda dimana barang yang saya kirim 4 hari yang lalu itu berada?

Di luar dugaan, barang itu sudah pergi berlibur ke Pontianak 😀

Lalu di mana letak kesalahannya?

Ternyata kasus ini murni human error. Kesalahan operator dalam memasukkan data pengiriman.

Akhirnya dalam waktu 7 hari paket tas rajut yang saya kirim ke Sleman Yogyakarta sampai…

…dan pelanggan saya pun kapok menggunakan pengiriman dalam kota dan dia lebih memilih menggunakan jasa ojek online pada pembelian berikutnya.

Di-tracking sudah sampai, kok saya merasa belum menerima ya?

Gadget saat ini memang menjadi satu alat komunikasi penting di jaman yang sudah modern ini.

Akan tetapi dibalik kecanggihannya itu menyimpan satu potensi yang negatif.

Kita seolah-olah dibuat percaya dengan alat ini dan mengesampingkan sisi humanis dari diri kita.

Ada kasus.

Saya tiba-tiba mendapat pesan di bbm…

Mbak, pesanan saya kok belum sampai?, saya sudah tracking dan tertulis sudah diterima. Gimana ini? Padahal saya belum menerima

Saya bisa menebak bahwa si pelanggan ini sedang marah melalui pesan yang saya baca.

Saya coba tracking lagi, dan memang di sana tertulis “diterima oleh si Fulan”.

Setelah itu saya konfirmasi kembali ke pelanggan dan saya bilang bahwa paket sudah diterima oleh si Fulan.

Dia tetap ngeyel…

Kemudian saya tanya, “lha alamatnya mbak e kantor, rumah atau kalo emang rumah apa tinggal di perumahan?”

Dia jawab, “kantor mbak…”

Akhirnya saya menyarankan agar si mbak ini bertanya kepada petugas keamanan kantor tempat dia bekerja.

Selang beberapa menit kemudian dia kirim pesan lagi,

“Mbak… Tasnya sudah sampai, ternyata ada di pos security, makasih ya…”

Haha… Sangat menggelikan.

Ada beberapa kejadian yang sama persis, dan benang merahnya tetap sama, gak mau bertanya atau kurang pedulinya kita dan tanpa kita sadari cenderung autis.

Saran saya, cobalah untuk menjalin hubungan yang baik dengan siapapun, terutama di lingkungan dimana kita berada.

Salam…

Share This:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *