pengendalian hawa nafsu

Mengendalikan Hawa Nafsu – Kenapa Hati Kita Masih Mendendam dan Sakit Hati, Sedang Kita Telah Rajin Beribadah?

Kita dan semua orang tahu dan paham, bahwa marah, mendendam, iri dengki, dan juga sakit hati itu perbuatan yang dilarang Tuhan.

Tapi, mengapa seolah kita tak berdaya untuk tidak melakukan perbuatan itu.

Sedangkan, kita dan sebagian banyak manusia telah mencoba menjalani kewajiban beribadah kepada Tuhannya.

Bagi orang yang memperjalankan dirinya pada jalan Ketuhanan; yakni Hakikat, Makrifat, Tarekat, dan Syariat, tentu paham dengan istilah Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa). Itupun masih saja terjebak pada Hati yang musah marah, dendam, iri, dengki dan sebagainya.

Itulah kenapa perjuangan memperbaiki diri harus dijalaninya secara sungguh sungguh.

Terlebih urusan membersihkan hati, tak bisa menggantungkan kepada orang lain, bahkan Guru Mursyid sekalipun.

Urusan Hati adalah urusan masing masing Manusia dan Tuhannya.

Seorang Guru Mursyid hanya bisa mengarahkan ilmu dan cara laku prosesnya, selanjutnya manusia (murid) itu sendiri yang berjuang.

gambar pengendalian hawa nafsu

Sebuah perjuangan memerlukan proses. Kupu kupu saja sebelum menjadi makhluk yang indah membutuhkan waktu selama 40 hari. Begitupun seekor anak ayam akan keluar dari cangkang telur setelah 21 hari dierami. Itu sebuah analogi sederhana.

Sadarkah kita, bahwa semua hal yang kita perbuat, baik itu yang positif maupun negatif, akan mengubah wujud batin kita, yakni wujud asli manusia. Perbuatan atau amalan yang baik (ilmu) akan menjadikan Hati, Jiwa dan Ruh kita menjadi Cahaya.

Sebaliknya, perilaku buruk kita terutama dari Hati, akan mengubah wajah kita menjadi Siluman/Binatang bahkan jika kita biarkan hingga berhari hari, berbulan bulan sampai bertahun tahun, jadilah wujud Iblis dalam diri kita.

Memang itu hanya bisa terlihat orang orang yang memiliki ilmu Ainul Bashirah, tapi wujud itu akan terbawa sampai di alam kubur (akhirat), kecuali kita mensucikan Jiwa dan Hati kita sebelum mati.

Itulah perlunya belajar agama secara Spiritulal, yakni hingga ke batiniah kita, tak sekadar berhenti pada Jasad (Raga/Syariat) belaka. Sudah pasti proses belajar itu wajib bersama Guru yang Mursyid-Murabbi.

ompakar Avatar

Published by

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *